Qasidah Burdah Bagian Pertama

الْفَصْلُ الْاوَّلُ فِي الْغَزَلِ وَشَكْوَىٰ الْغَرَامِ

Chapter One: Bercumbu dan Pengaduan Cinta

Daftar Isi

أَمِنْ تَذَكُّرِ جِيرَانٍ بِذِي سَلَمِ

مَزَجْتَ دَمْعًا جَرَى مِنْ مُقْلَةٍ بِدَمِ

Apakah karena mengingat tetangga tercinta yang berada di Dzi Salam
hingga air matamu mengalir deras bercampur darah?

Penjelasan:
Di sini penyair telah membagi dirinya menjadi dua, dan satu dari keduanya yakni ia selaku pihak yang ditanyakan (kemudian ia kami sebut sebagai penjawab) oleh pihak penanya, menangis dengan menitikkan air mata yang bercampur darah. Kalimat “bercampur darah” adalah sebuah kiasan untuk menunjukkan betapa hebat tangisnya sang penyair (penjawab). Menyadari akan hal ini penanya bertanya kepada penjawab: “Mengapa engkau menangis dengan mengalirkan air mata bercampur darah? Adakah itu pertanda akan teringatnya engkau kepada kekasihmu yang berada di Dzi Salam?”


Kemudian pihak penyair bertanya lebih lanjut:

أَمْ هَبَّتِ الرِّيحُ مِنْ تِلْقَاءِ كَاظِمَةٍ

وَأَوْمَضَ البَرْقُ فِي الظَّلْمَاءِ مِنْ إِضَمِ

Ataukah karena hembusan angin dari arah Kazhimah,
atau kilauan cahaya kilat pada kegelapan dari arah Idham?

Penjelasan:
Sebagai kelanjutan dari sebuah pertanyaan pada sya’ir sebelumnya, yakni “Apakah karena mengingat para kekasih di Dzi Salam, kau campurkan air mata (di pipimu) dengan darah?” ia (penyair) bertanya lagi: “Ataukah karena hembusan angin yang datang dari arah Kadzhimah, yang menyebabkan engkau berkhayal, seolah-olah hembusan angin itu membawa aroma wangi kekasihmu? Ataukah karena kilauan kilat pada malam hari yang gelap gulita di daerah Idham yang menyebabkan engkau membayangkan
rumahnya.”

Dalam hal ini, Muhammad bin Said al Bushiri menunjukkan bagaimana besar cintanya kepada Nabi Muhammad saw di mana ia melukiskan bahwa dirinya adalah orang yang begitu jatuh hati pada seorang gadis. Jika saja ia berpisah, maka kesusahan dan kepedihanlah yang akan ia derita, menangis siang malam sampai mencucurkan air mata bercampur darah. Akibatnya, ia menjadi sakit, kurus serta pucat pasi disebabkan karena terlalu banyak berpikir, kurang makan dan kurang tidur.

فَمَا لِعَيْنَيْكَ إِنْ قُلْتَ اكْفُفَا هَمَتَا

وَمَا لِقَلْبِكَ إِنْ قُلْتَ اسْتَفِقْ يَهِمِ

Mengapa dengan kedua matamu? Jika engkau menahan air mata, keduanya tetap basah.
Ada apa dengan hatimu? Jika kau sadarkan, ia tetap gelisah.

Penjelasan:
Ketika penyair selaku penanya bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak segera mendapat jawaban oleh karena pada umumnya para pecinta menyembunyikan perasaan cintanya pada awal-awal percintaannya bahkan lebih dari itu terkadang mereka justru mengingkarinya, maka penanya menganggap pihak yang ditanya sebagai orang yang inkar akan cintanya sendiri serta terheran-heran akan perilakunya hingga terlontarlah perkataan dari pihak penyair: “Wahai orang yang ingkar akan cintanya sendiri! Bagaimanakah engkau akan menjawab pertanyaan-pertanyaanku sedangkan engkau sendiri tidak mampu menahan air matamu di depanku dan juga tidak mampu menyadarkan hatimu sehingga engkau merana dan menderita? Bukankah kedua hal ini adalah bukti yang sangat nyata akan cintamu yang begitu besar?”

أَيَحْسَبُ الصَّبُّ أَنَّ الحُبَّ مُنْكَتِمٌ

مَا بَيْنَ مُنْسَجِمٍ مِنْهُ وَمُضْطَرِمِ

Apakah pemabuk cinta mengira rasa cintanya dapat tersembunyi
di balik deraian air mata dan gelora cinta di dada?

Penjelasan:
Ketika penyair bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat dijawabnya si penyair menyalahkan cinta dari pihak yang ia tanya dalam hal ini adalah penjawab yang diingkari dan ia berkata: Apakah orang yang sedang dimabuk cinta dapat menyembunyikan cintanya di antara tangis dan hati yang membara karena hebatnya cinta yang ia alami? Jika demikian halnya, maka mengingkari cintanya, adalah sebuah kesalahan nyata.

لَوْلاَ الهَوَى لَمْ تَرِقْ دَمْعًا عَلَى طَلَلٍ

وَلاَ أَرِقْتَ لِذِكْرِ البَانِ وَالْعَلَمِ

Andai bukan karena cinta, air matamu takkan mengalir saat melihat sisa reruntuhan rumah sang kekasih
dan tidak pula engkau terjaga untuk mengenang pohon Ban dan bukit yang mengingatkanmu pada sang kekasih.

Penjelasan:
Kalau saja bukan karena cinta, tak akan mungkin engkau menangisi bekas reruntuhan rumah kekasihmu dan takkan pula malam engkau susah tidur, karena mengingat pohon Ban dan sebuah gunung yang keduanya berdekatan dengan rumah kekasihmu.

فَكَيْفَ تُنْكِرُ حُبًّا بَعْدَمَا شَهِدَتْ

بِهِ عَلَيْكَ عُدُولُ الدَّمْعِ وَالسَّقَمِ

Bagaimana engkau masih mengingkari rasa cintamu, padahal
air mata dan derita telah jujur bersaksi;

Penjelasan:
Dan bagaimana mungkin engkau bisa mengingkari cinta yang telah nyata dibuktikan oleh saksi yang adil dan jujur, yakni cucuran air mata dan derita. Maka, oleh karna itu tidak perlu lagi engkau mengingkari cintamu di hadapanku.

وَأَثْبَتَ الوَجْدُ خَطَّيْ عَبْرَةٍ وَضَنىً

مِثْلَ البَهَارِ عَلَى خَدَّيْكَ وَالعَنَمِ

Dan derita cintamu telah meninggalkan dua garis bekas linangan air mata dan membuatmu kurus lemah,
laksana bunga kuning di kedua pipi dan mawar merah?

Penjelasan:
Bagaimana kau dapat mengingkari cintamu, padahal begitu nyata dua tanda di kedua pipimu? Pertama: pucatnya wajahmu yang bagaikan mawar kuning. Kedua merahnya air matamu yang bagaikan mawar merah. Sehingga siapapun yang melihatmu akan mengerti dengan benar akan besarnya cintamu yang begitu nampak di wajahmu.

Ini adalah sya’ir terakhir dari al Bushiri selaku penanya. Berikutnya adalah jawaban dari pertanyaan yang diajukan serta berisi nasehat dari sang penyair.

نَعَمْ سَرَى طَيْفُ مَنْ أَهْوَى فَأَرَّقَنِي

وَالحُبُّ يَعْتَرِضُ اللَّذَّاتَ بِالأَلَمِ

Benar! Bayangan kekasihku selalu terlintas dalam benakku hingga membuatku terjaga.
Begitulah cinta, dapat mendatangkan derita di balik kenikmatan.

Penjelasan:
Adapun setelah terang benderang permasalahannya dan tidak mungkin lagi mengingkari besarnya cinta penyair selaku penjawab, maka iapun (penjawab) mengaku dan berkata: “Benar, apa yang engkau katakan padaku tentang cintaku. Akan tetapi dari besarnya cintaku padanya, maka ketika aku melihat kekasihku di dalam mimpi, aku terbangun ketakutan. Sehingga aku begitu susah memejamkan mata dan hati terasa pedih karena tidak dapat berjumpa dengannya. Memang cinta menghalang-halangiku dari kegembiraan dan kenikmatan.” Yang dimaksud dengan “kenikmatan” ialah ketenangan dalam nyenyaknya tidur serta harapan untuk berjumpa. Sedang yang dimaksud dengan “pedih” ialah besarnya kesedihan akibat cinta yang penyair alami.

يَا لاَئِمِي فِي الهَوَى العُذْرِيِّ مَعْذِرَةً

مِنِّي إِلَيْكَ وَلَوْ أَنْصَفْتَ لَمْ تَلُمِ

Wahai, para pencelaku karena gelora cinta suci ini! Aku maklumi cacianmu.
Seandainya engkau bersikap adil, niscaya kau takkan mencelaku.

Penjelasan:
Wahai orang yang mencerca cintaku, yang bagaikan cintanya suku Udzroh! Sebenarnya jika kalian menginsafi (bersikap adil), tak akan engkau mencercaku sedemikian rupa, karena cinta bukan ikhtiar yang kusengaja sehingga patut dicerca. Tapi cinta adalah sesuatu yang datang dengan paksaan. Dan tidak ada hal yang patut dicerca kecuali sesuatu yang memang bersifat ikhtiyar manusiawi. Mengenai Bani Udzroh, mereka adalah orang-orang suku Udzroh yang berada di Yaman dan terkenal sebagai orang-orang yang suka bercinta dan kerap kali cintanya membawa kematian.

عَدَتْكَ حَالِي لاَ سِرِّي بِمُسْتَتِرٍ

عَنِ الْوُشَاةِ وَلاَ دَائِي بِمُنْحَسِمِ

Kau telah mengetahui keadaanku. Kini rahasiaku tak dapat tersembunyi
dari para pemfitnah, sedangkan penyakit yang menimpaku tak kunjung pulih.

Penjelasan:
Tidakkah sampai keadaanku kepadamu? dan tidakkah kau mau memaafkan aku? Memang, wajar engkau tidak merasakan apa yang aku rasakan, kecuali engkau mengetahui dahsyatnya cintaku, baru engkau akan dapat memahami dengan baik. Kalau saja kau mengenal cintaku ini, serta merasakan seperti apa yang aku alami, tentu engkau tidak akan mencercaku. Kini semuanya sudah sampai kepadamu, tidak ada rahasia lagi yang tersembunyi. Semuanya sudah terbuka oleh pemfitnah yang akan merusak cintaku. Begitu pula deritaku, tak akan pernah sembuh selagi cinta itu ada dalam kalbu.

مَحَّضْتَنِي النُصْحَ لَكِنْ لَسْتُ أَسْمَعُهُ

إِنَّ المُحِبَّ عَنْ العُذَّالِ فِي صَمَمِ

Engkau begitu tulus menasihatiku, tapi aku tak pernah mendengarkannya.
Sungguh, pecinta selalu tuli untuk mendengar pencaci.

Penjelasan:
Telah engkau nasehati aku dengan ikhlas. Akan tetapi karena begitu besarnya cintaku, aku tak kan pernah mendengar nasehat siapapun. Sesungguhnya telinga sang pecinta tuli dan tidak dapat mendengar nasehat para pemfitnah yang akan merusak cintaku. Sebagaimana kata pepatah: ‘Cintamu pada sesuatu telah membuat dirimu buta serta tuli’.

إِنِّي اتَّهَمْتُ نَصِيحَ الشَّيْبِ فِي عَذَليِ

وَالشَّيْبُ أَبْعَدُ فِي نُصْحِ عَنِ التُّهَمِ

Sungguh, aku telah menuduh nasihat ubanku ikut mencela.
Padahal, nasihat uban sangat tulus dan tak layak dicurigai.

Penjelasan:
Aku telah menuduh semua penasehat yang ada, sampai pun pada ubanku sendiri. Walau sesungguhnya ubanku itu adalah sesutu yang paling jauh dari loba, cemburu dan kedengkian, tidak sebagaimana pencerca yang lain yang mungkin saja dihinggapi penyakit semacam ini. Uban disebutkan sebagai penasehat karena uban menunjukkan dekatnya kematian. Sehingga mengharuskan seseorang untuk banyak berbuat sesuatu yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Dengan demikian, uban adalah penasehat dalam bentuk perilaku (tidak dalam bentuk ucapan).

Leave a Comment